Traffic Feed

Selasa, 27 Oktober 2015

Media Sosial sebagai Instrumen Pembentukan Perilaku Politik pada Masyarakat di Era Globalisasi



Media sosial merupakan fenomena global yang tidak bisa dihentikan, bersifat dinamis dan akan terus berkembang mengikuti waktu dan kebutuhan masyarakat. Fenomena yang ada pada saat ini adalah banyaknya penyebaran berita dan opini melalui media sosial, baik itu opini dari masing-masing individu yang menyuarakan suara mereka dengan memanfaatkan media sosial di dalam lingkup negara demokrasi seperti di Indonesia. Banyaknya pengguna media sosial di indonesia berpengaruh pada berkembangnya akun-akun berita dan opini mengenai berbagai hal termasuk mengenai politik. Banyak partai politik, organisasi, kelompok bahkan individu yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan ideologi dan pemikiran mereka. Media sosial dianggap lebih efektif untuk mensosialisasikan dan menyebarkan nilai-nilai maupun opini dari pihak-pihak tersebut karena dianggap lebih cepat, efisien dan meminimalisir pengeluaran biaya.
Tak jarang kita temui masyarakat indonesia yang memiliki suatu pemikiran dan pandangan politik tertentu karena terpengaruh akan kekuatan media sosial dalam menyiarkan opini mengenai politik. Banyak akun-akun berbau politik bermunculan dengan bermacam motif kepentingan seperti mengkritik, memberikan opini dan dogma serta menjadi dongkrak bagi kepentingan politik suatu kelompok, tetapi banyak masyarakat indonesia pengguna media sosial yang tidak menyadari makna tersirat dari adanya akun tersebut, hingga akhirnya banyak yang terbawa opini serta terdogma pemikiran-pemikiran dari akun tersebut bahkan hal tersebut dapat mempengaruhi perilaku politik mereka. Banyak masyarakat yang tidak kritis dalam mendapatkan informasi-informasi politik tersebut, mereka cenderung menelan mentah-mentah segala informasi politik tanpa memfilternya lagi maka sering terjadi perdebatan antar masyarakat mengenai hal-hal politik tetapi hanya menggunakan data dan analisis yang dangkal.
Dalam menganalisis media sosial sebagai instrumen pembentukan perilaku politik pada masyarakat Indonesia dapat menggunakan tiga teori, yaitu teori komunikasi polititik jarum hipodermik, teori ruang publik dan teori penanaman yang dianggap dapat menjelaskan mengenai hal ini. Teori komunikasi politik jarum hipodermik atau disebut teori peluru yang dikemukakan oleh Elihu Hatz sebenarnya merupakan teori media massa yang pertama ada, namun teori ini juga bisa digunakan dalam media sosial. Teori jarum hipodermik melihat bahwa adanya penyampaian pesan politik satu arah yang disampaikan kepada khalayak banyak melalui media massa dan jal ini sangat berpengaruh dominan dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Teori ini melihat bahwa masyarakat adalah sebuah entitas yang pasif dan menerima apapun yang disuguhkan oleh media massa dan membuat masyarakat tidak berdaya dalam melawan kekuatan media. Hal ini bisa dilihat juga dalam melihat kuatnya arus informasi yang disuguhkan oleh banyak akun di media sosial, banyak orang yang tanpa matang-matang menerima informasi itu seakan-akan menjadikan mereka sebagai entitas yang pasif. Teori ruang publik milik Jurgen Habermas mencoba mengenalkan gagasan ruang publik sebagai ruang yang independen serta terpisah dengan negara dan pasar. Ruang publik membuat masyarakat memiliki ases untuk menyuarakan suara dan opininya agar bisa dilihat dan didengar oleh orang banyak . Opini publik ini kemudian berperan untuk memengaruhi perilaku-perilaku mayarakat, negara dan pasar. Di era ini ruang publik tidak hanya bersifat fisik  melainkan bisa melalui media massa. Teori selanjutnya yaitu teori penanaman (cultivation theory) adalah teori yang dikemukakan oleh George Gerbner memang melihat kekuatan televisi dalam mempengaruhi dan menanamkan sesuatu ke dalam jiwa penontonnya yang kemudian dapat terimplementasi kedalam sikap dan perilaku mereka.  ini bisa juga digunakan dalam melihat kekuatan media sosial yang tidak hanya berisika text tetapi juga tayangan video dan gambar yang dapat menanamkan nilai terhadap penggunanya.
Ketiga teori diatas memiliki hubungan dan keterikatan satu sama lain, dimana banyak masyarakat di era digital ini yang membutuhkan sebuah space ataupun ruang publik bagi diri mereka untuk bisa memberikan opininya agar bisa dilihat oleh publik, tetapi tentu saja banyak opini yang tidak berdasarkan fakta dan bersifat subjektifitas semata. Media sosial dianggap bisa menjadi ruang virtual bagi masyarakat untuk membuat dan memberikan opini mereka karena dianggap sebagai media penyampaian informasi yang sangat cepat dan lingkupnya global. Dengan banyaknya pengguna media sosial tentu sangat memungkinkan bagi para pengguna untuk melihat dan mengomentari opini masing-masing salah satunya mengenai hal berbau politik. Tidak jarang beberapa pengguna media sosial dapat terpengaruh akan opini satu sama lain atau bahkan menjadi pengikut opini seseorang (sebuah akun). Banyaknya masyarakat yang mendapatkan informasi (politik) tanpa ada pengolahan terlebih dahulu membuat mereka dikatakan sebagai pengguna media sosial yang pasif dan mau menerima banyak opini yang disuguhkan para penguna media sosial lainnya, lama kelamaan hal ini akan membentuk serta menanamkan pemikiran dan perilaku politik mereka. Padahal tentu saja banyak opini yang mengarah pada suatu kelompok dan kepentingan tertentu, misalnya adanya suatu akun yang sudah memiliki followers yang banyak mencoba memojokkan dan menyalahkan pihak lain yang merupakan oposisi mereka dengan menggunakan permainan kata dan data yang persuasif sehingga akan banyak massa yang mendukung untuk ikut-ikutan memojokkan pihak oposisi tersebut, maka terbentuklah suatu perilaku politik yang dimulai dari media sosial dan bisa terimplementasi dalam perilaku politiknya di dunia nyata.
Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan karena akan membuat masyarakat yang tidak kritis dan terfragmentasi karena mendapatkan informasi politik dari sumber yang berbeda-beda tanpa menganalisis lebih lanjut. Setelah mendapatkan informasi dari salah satu pihak tersebut, mereka akan cenderung memposting sesuatu seperti gambar dan argumen yang sama dengan pihak yang mereka ikuti opininya tersebut, hal ini akan direspon oleh orang-orang pengguna media sosial lainnya yang memiliki perbedaan argumen lalu terjadilah adu pendapat di ruang publik media sosial ini, biasanya para pengikut pasif akan berpegang pada sumber awal yang mereka terima dan mengunci pemikiran mereka akan pendapat oposisi tanpa mau mendiskusikan solusi ataupun jalan tengah dari suatu isu politik dan lain sebagainya. Dimulai dengan perselisihan yang terjadi di media sosial , perselisihan ini bisa terbawa juga ke dalam dunia nyata dan membuat retak suatu hubungan(network) karena memperdebatkan suatu isu hanya dengan menggunakan sumber yang dangkal. Hal ini akan membuat mudahnya suatu masyarakat untuk dimobilisasi oleh banyak kepentingan dan perilaku politik mereka merupakan hasil kontrol dari banyak kepentingan tersebut.
Hal ini sering terjadi di masyarakat Indonesia, tetapi tidak selamanya hal diatas akan terjadi. Jika suatu masyarakat memiliki pendidikan politik yang baik, mau menganalisis dan tidak gegabah dalam mendapatkan informasi, mencoba terbuka dan mau menganalisis suatu opini dan isu maka kejadian-kejadian diatas yang menggunakan hubungan dari tiga teori yaitu teori jarum suntik, teori ruang publik dan teori penanaman akan bisa dicegah agar masyarakat di era globalisasi ini bisa menjadi entitas yang memiliki perilaku poltik yang sesuai pilihannya dan bukan karena mudah untuk dimobilisasi oleh suatu kepentingan. 



Referensi
Habermas, J. ‘The Public Sphere: An Encyclopedia Article (1964)’, New German Critique 3 (Autumn/1974): 49.
Habermas, Jurgen. 2007. Ruang Publik: Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Bantul : Kreasi Wacana.
Saefudin, H.A. “Cultivation Theory”, dalam Dirjen Dikti SK No.56/Dikti/KEP/2005. Jakarta.
Semma, Mansyur. 2008. Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia dan Perilaku Politik. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi. Yogyakarta : MedPress.
Wiryanto, dkk. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Grasindo.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Merefleksikan Jati Diri Sebagai Bangsa Indonesia Melalui Lagu Wajib Nasional




Keisenganku membuka Youtube di sela-sela waktu kosong mengarahkanku kepada sebuah video  berisi kumpulan foto-foto keindahan Indonesia diiringi dengan lagu tanah airku. Saat itu juga lirik dan alunan lagu itu masuk ke dalam jiwaku, sedih aku mendengarnya, air mata pun berhasil membasahi pipi ini, lirik bermakna dalam yang tersusun dengan indahnya itu membuat diriku malu. Indonesia ini sangat sangat kaya sekali baik itu dari segi keindahannya, keanekaragamannya, budayanya dan sejarahnya yang tak bisa dimiliki oleh negara lain. Tapi banyak sekali warga negaranya yang sering tidak menghargai negeri ini, tentu sering kalian membandingkannya dengan negara-negara maju lainnya. Sering kalian menjelekkan, memaki, dan mengomentari indonesia, kalian hanya melihatnya dari paradigma negatif dan kerusakannya saja. Tanpa sadar bahwa sebenarnya jiwa nasionalisme pun mulai runtuh, dirasuki oleh kebanggaan dan mendewakan negara-negara lain. Tanpa sadar bahwa bukan indonesia saja yang pernah dan masih tetap dijajah, tapi jiwa raga bangsanya pun sedang dijajah oleh hal-hal yang orang bilang sebagai modernisasi, globalisasi dan westernisasi.
Lagu-lagu wajib nasional yang dulu sering kalian nyanyikan, kini mulai jarang terdengar ditelinga, mungkin hanya 1-2 kali dalam setahun lagu tersebut terselip ke telinga seperti pada hari kemerdekaan indonesia saja. Playlist kalian sudah penuh dengan lagu-lagu barat, karena jika playlist kalian berisikan lagu-lagu indonesia maka bersiaplah mendapatkan ejekan dan anggapan bahwa kalian kampungan. Bukan maksudku untuk menggurui, aku pun sama masih melakukan hal-hal tersebut, masih belum bisa mengabaikan apa yang orang katakan jika aku tidak mengikuti “trend”. Jika ditelik lagi lagu wajib nasional memiliki lirik makna yang sangat dalam serta mempunyai fungsi yang sangat kompleks. Lagu wajib nasional berguna dalam penanaman jiwa nasionalisme, patriotisme serta berguna dalam pembentukan karakter dan mental warga negara oleh karena itu lagu-lagu wajib nasional sudah diperkenalkan sejak kecil. Tapi rupanya pembentukan karakter dan jiwa nasionalisme yang ditujukan secara tersirat oleh lagu wajib nasional tidak berhasil bagi sebagian warga negara indonesia yang kini sudah mengikuti trend “kebarat-baratan”. Semuanya tergantung pilihan yang masing-masing individu buat, bertahan dengan mimpi-mimpi idealismenya atau menjadi mahluk yang mengikuti arus westernisasi.
Kita sebagai pemuda harus bisa memilih, tidak perlu ragu untuk memilih menjadi warga negara indonesia yang tetap mempertahankan nasionalismenya. Idealisme memang mahal harganya, tapi perjuangan menjunjung idealisme ini adalah suatu hal yang menunjukkan kecintaan kita kepada negeri ini yang sudah memberikan kita banyak hal seperti cinta, pengalaman dan hidup. Kita adalah para calon pemimpin penerus bangsa ini, jangan mau nilai yang kita junjung ini tergores, mari mulai tanamkan kembali nilai-nilai itu. Orang lain pasti akan mengejek mimpi-mimpi ini, tapi biarlah kini saatnya mengabaikan pandangan orang yang pesimis dari hidup kita. Kita bisa mulai belajar untuk memahami dan meresapi makna dari lagu wajib nasional, lagu yang bisa merefleksikan jati diri kita sebagai bangsa indonesia. Izinkan kami duhai indonesia untuk kembali mengenalmu, menghargaimu, mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu, mengabdi padamu, berkontribusi dan berjuang untukmu hingga akhir hayat kami. Duhai tanahku yang kucintai, engkau ku hargai, engkau ku banggakan.


Senin, 28 September 2015

Aku masih menunggumu , yang telah disiapkan oleh Nya

Aku bukanlah penggila taaruf
Aku bukanlah penggila pacaran
Aku adalah penggila dalam memantaskan diri untuk bisa berada disampingmu suatu saat nanti.

Beberapa orang masih mempertanyakan mengapa aku masih sendiri. Lelah juga rasa untuk menjawabnya, toh setiap perkataanku akan mereka anggap hanya sebagai alasan omong kosong mengenai kesendirianku.
Padahal ini bukan perkara laku atau tidak laku, bukan juga karena aku menetapkan suatu standar tertentu. Mungkin hati ini saja yang masih belum mau membuka pintunya, bukan karena aku masih belum bisa move on dari perjalanan kisah asmaraku yang sebelumnya.
Tapi di umur yang sudah tidak dikatakan sebagai remaja lagi ini aku ingin lebih berhati-hati untuk menjalin suatu hubungan.
Bukankah hati ini terlalu berharga untuk diinvestasikan pada orang yang salah dan ingin bermain-main saja?

Wahai kamu yang belum kuketahui siapa, wahai kamu yang selalu kupanjatkan di dalam setiap sujud dan doaku pada Nya.
Wahai kamu yang juga sedang bersabar menungguku disana dan tiba untukmu.
Wahai kamu yang mungkin masih sedang bersama orang lain ataupun memilih untuk sendiri dan enggan mengisi kekosonganmu untuk saat ini.
Wahai kamu yang sedang berjuang sangat gigih meraih impianmu, aku pun tentu saja sedang berjuang meraih mimpi-mimpiku.

Bersabar adalah hal terbaik yang kau dan aku bisa lakukan, kau dan aku yakin pertemuan itu akan tiba.
Pada saat pertemuan nanti, kau dan aku yakin bahwa kita bisa menjadi seseorang yang terbaik untuk satu sama lain

Sabtu, 26 September 2015

Dari jogja ke semarang naik motor

Hai Fellas. what's up? it's been a long time I have not write anything in a blog, maybe since 2010. So this is my new blog and sorry for my bad writing skill, well let me give some a little introduction first

HALOO
kenalin gue Dilla Novita Rizki. Sekarang sedang menempuh kuliah semester 5 di jurusan politik dan pemerintahan (JPP) UGM dan Insya Allah target 1,5-2 tahun lagi lulus dengan IPK Kumlaut ya. Amin
oke jadi gue adalah orang yang moody dan gampang berubah, gue orangnya nyeleneh dan pecicilan tapi kalo momentnya serius ya gue bisa take it serius juga kok. spontan is my things, one of the example is this....

Ketika tanggal 14 september gue dan 3 orang anak kostan gue lainnya berencana mau ke semarang setelah idul adha naik motor. Mendekati hari H makin-makin jauh dari target nih rencana bisa terjadi karena berbagai alasan, tapi karena nekat akhirnya jadi juga deh gue, mba sita dan mba eche berangkat. Dengan menggunakan 1 motor pinjaman punya temen sma gue yang kemudian dibawa sama mba sita yang memboncengi mba eche, dan gue menggunakan motor beat ber plat A 5555 CC gue yang sudah menemani gue sejak kelas 6 SD, motor yang jarang banget gue rawat,cuci maupun diservice, motor yang udah pernah jatoh, lecet, tergores, menerjang panas dan hujan. Meski gue udah pernah dikasih tau sama tukang service motor honda di jakal km 6 sana bahwa si orange itu gabisa dibawa jauh-jauh eh tapi gue nekat make tuh motor buat pergi ke semarang tgl 23 september kemaren dimana gue ga ikutan ngasih surprise birthday buat temen sma gue, I know that I’m so selfish.

Niat berangkatnya sih abis dzuhur setelah gue balik ngegym dari novotel, tapi apalah daya… ngaret akan selalu terjadi dan kami baru berangkat sekitar pukul jam 3 sore. Di perjalanan banyak banget mobil-mobil gede, asapnya itu loh hitam pekat sekali, debu-debu pun menempel disekujur wajah gue yang tidak tertutupi oleh masker. Ketika kita sampai di semarang, gue melihat palang tulisannya simpang lima à (simpang lima belok kanan), tanpa pikir panjang maka gue yang dari tadi berkendara lurus terus akhirnya membelokkan stir ke kanan dan masuklah gue ke sebuah jalan yang cukup besar dan sepi, gue ga melihat tanda-tanda adanya motor dan yang ada hanya kendaraan roda 4, udah gitu disamping jalan tertulis km 12, km 13 . nah loh gue ada dimana nih? Ini jalan tol astaga, astagaaaaa. Kami diteriaki sama mobil truk dan ada mobil yang nyuruh untuk muter balik, untunglah nemuin jalan kecil yang belum ada betonnya… alhamdulillah bisa keluar juga dari jalan tol itu. Beruntunglah ga ada polisi atau reporter berita, bisa-bisa gue masuk berita karena kecerobohan gue dan siapa tau ada berita “Motor ber-plat A memasuki jalan tol Semarang” heheheheehehe mahasiswa UGM macam apa deh itu. 

Setelah berkendara lagi di jalan yang benar, kami langsung menuju simpang lima (pakai google maps) dan sampai sekitar jam 19.05 yey finally makan tahu gimbal. Ketika kami pergi ke toilet dan ngaca, keliatan banget muka ini kotor tertutup debu, beberapa tisu basah akhirnya berhasil menghilangkan debu yang hinggap di wajah. Kelar makan maka tujuan selanjutnya adalah mencari hotel, yes kami sama sekali belum tahu mau nginep dimana. Yang gue tau daerah deket stasiun poncol banyak hotel-hotel murah, you know why~. Nyari-nyari hotel sekitar satu jam , pas lagi mampir di indomart bokap gue nelepon dan gue cerita gue lagi di semarang dan bokap mengatakan bahwa gue kerjanya jalan-jalan mulu ngabisin uang…………. Hiks maafkan pah, aku ga bermaksud, hanya saja nurani ingin jalan-jalan ini sangat kuat ada di dalam diriku, eaaa. Eh gue keceploasan kalo gue lagi nyari hotel dan naik motor, nah loh bokap kaget dan gue minta bokap jangan cerita ke nyokap soalnya takut brabe dan takut nyokap kepikiran. Oke jadi gue, mba eche dan mba sita nyari hotel mulai dari hotel yang nyeremin karena di lantai 2 ada bapak-bapak yg lagi ngeroko ngeliatin kita, hotel deket gereja bledug yang banyak nyamuk dan suasana angker banget bangunan zaman dulu (maklum daerah kota lama) dan bertemulah kita dengan hotel blambangan di jl.pemuda yang deket banget sama simpang lima dan tugu muda, tempatnya bersih, terlihat aman (banyak security) dan untunglah biayanya memadai, kita langsung ke kamar dan mandi soalnya malemnya mau ke tugu muda. 

Dengan menempuh perjalanan sekitar 5-10 menit maka sampailah kita di tugu muda yang bersebrangan dengan lawang sewu, kerjaan kita ngapain disitu ? foto lah, meski temen gue yg anak akpol semarang bilang “ngapain ke tugu muda ? alay banget deh, gitu-gitu doang aja”. Maklumlah namanya juga turis dari kota sebelah yang belum pernah ke tugu muda, wajarkanlah perbuatan kami ini. Gue foto-foto dengan kertas bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY DIMAS yang ke 21” untuk temen SMA gue yang ga gue datengin surprise party nya dengan berlatarbelakang tugu muda yang berubah-rubah warna. eh taunya gue salah nulis, si dimas baru umur 20, lagian napa muka dia kaya umur 21 coba. Duh
Kami disana hingga jam 12 malam dan perut gue sakit banget pula karena pms rasanya ga kuat banget bawa motor dan mau cepet-cepet nyampe ke hotel. Sesampainya di hotel gue masih nungguin kabar temen gue yang katanya mau main sama temen gue orang serang juga yang pendidikan di semarang jam 00.30, gue chat malah ga di jawab dan gue nunggu sampe jam 01.30. Karena ketidakjelasan rencana tersebut maka gue memilih buat tidur karena harus bangun subuh dan siap-siap ke masjid agung buat solat idul adha, karena saat itu gue lagi pms jadinya cuma nganterin temen aja deh. Subuh tiba, rebutan mandi deh kami bertiga, langsung check out hotel dan berangkatlah kami ke masjid agung jawa tengah yang sudah dihadiri banyak orang. Alhamdulillah udah kedua kalinya ke masjid agung ini, indah sekali arsitekturnya, megah. Bawaannya jadi ingin segera naik haji meski harus menunggu bertahun-tahun karena jumlah antrian calon jamaah haji indonesia yang ga terhitung banyaknya, Insya Allah dimudahkan oleh Allah untuk bisa naik haji,amin. Sembari menunggu mba eche yang solat, aku dan mba sita malah sibuk foto-foto, maklumi jiwa narsis perempuan ya. Ini foto pas bulan januari kemaren sih hehe

            Setelah itu kami langsung menuju ke brown canyon tempat foto yang lagi hits di semarang ini kami tempuh sekitar 20-25 menit perjalanan dengan bantuan google maps. Suasanaya sepi sekali, maklumlah masih pagi dan orang-orang masih sibuk merayakan idul adha. Ketika di brown canyon pula lah temen gue anak FH Undip 2012 yaitu andi datang, dan tentu aja gue minta tolong ke dia untuk fotoin gue dan temen-temen gue hehehehe thanks ndi.

 Gersang dan panas banget tempatnya, maklum aja ga ada pepohonan dan mataharinya terik sekali, jadi hanya sekitar satu jam kami disana dan langsung melanjutkan perjalanan ke semarang atas sembari singgah ke burjo. Parah, parah semarang terik banget, bikin dehidrasi dan menyebabkan gue minum lebih dari 3 gelas minuman dingin biar haus gue hilang padahal gue lagi datang bulan. Perjalananpun berlanjut dan kami menuju umbul sidomukti yang jalannya cukup nanjak dan gue khawatir motor orange gue yang sudah tua ini ga sanggup naik dan meghadapi tajamnya jalan menuju umbul sidomukti, bahkan motor gigi yang dibawa mba sita pun berkali-kali harus menurunkan mba eche di jalan karena ga kuat nanjak. Sampai juga akhirnya di umbul sidomukti, and you know what? Gile itu tempat panas banget padahal letaknya di topografi yang cukup tinggi, udah gitu pengunjungnya rame banget pula. Keindahan umbul sidomukti yang biasa gue liat di instagram ini pun tertutup karena super crowded, panas bikin gak nyaman pula, tapi teteplaah akan gue bilang bahwa nih tempat bagus kok harusnya sih sore-sore gitu kesini biar lebih enak lagi suasananya kata andi. 

Setelah foto-foto (lagi), kita berangkat lagi naik motor menuju ke kampung rawa ambarawa yang ada di deket museum kereta api ambarawa dan gue sempet terpisah pula di jalan dengan andi, mba eche dan mba sita. Google maps pun ga berguna, dia bikin gue nyasar lagi dan lagi bahkan ke gang sempit rumah warga…… duh. Ketika sampai, taraaaaa tibalah gue di lokasi tersebut dan tidak begitu sesuai dengan ekspetasi sih yaa meskipun pemandangan sawah , gunung, awan dan langitnya indah banget tapi rawanya tidak ~~~~~. 

            Sekitar jam 4 sore gue, mba eche dan mba sita pun berpamitan sama andi yang balik lagi ke semarang. Nyampe ke jogja sekitar jam 18.30 dan otot-otot gue terasa sangat sakit terlebih lagi di area kaki dan pantat, ya iyalah motoran berjam-jam dengan istirahat minim kayak gitu ditambah hari sebelumnya gue abis ngegym. Disitu gue merasa remuk, remuk, remuk dan memilih untu istirahat tanpa mandi (lol padahal pas di semarang keringetan banget)  tapi ya gimana, badan serasa kekunci gabisa nagapa-ngapain. Meski terbilang nekat, gue sangat menikmati perjalanan singkat ini. Meski banyak yang menunggu untuk dikerjakan, gue tetap menikmati indahnya sebuah keberanian dan kenekatan yang lagi-lagi gue perbuat dan emak gue pun ternyata tahu bahwa gue PP ke jogja-semarang naik motor, duh.  But it’s been a pleasure to me to see another part of indonesia again.