Hi everyone, this is me Dilla. It’s been a long time since my last post,
I have something to do which make me kinda negclect this blog. Today I will
share to you my experience when I go to Banyuwangi. Also I will give you a budget list how to go to Banyuwangi from Yogyakarta only 400K including transportation, eat, place to stay, etc. So here I go by using
bahasa....
Sebenernya keinginan untuk pergi ke banyuwangi udah ada sejak video clip
Raisa yang judul lagunya “Jatuh Hati”. Tempat yang ditampilin di video clip
Raisa itu menurutku bagus sekali, setelah nyari-nyari info ternyata tau deh
kalo tempat yang dijadikan lokasi syutingnya itu adalah di taman nasional
baluran, Banyuwangi.
Barulah akhir agustus lalu tepatnya tanggal 26-28 agustus
kesampaian untuk pergi ke banyuwangi dan melihat beberapa spot menarik disana.
Aku yang mengatur dan mengurus segala rencana perjalanan, rincian biaya, tiket,
tempat stay, spot yang akan dikunjungi, makan dan penyewaan motor. Aku bersama
3 orang teman lainnya yaitu Danty, Agung dan Ian hanya menghabiskan 3 hari
dimana 27 jamnya termasuk perjalanan pulang-pergi kami dari
yogyakarta-banyuwangi. Sebentar sekali sih memang, sayang memang padahal
Banyuwangi punya tempat-tempat menarik sekali untuk dikunjungi, tapi ya karena
kesibukan masing-masing di hari senin dan gatau kapan lagi mau ke Banyuwangi,
karena kalo ditunda-tunda malah gajadi. Tentunya waktu segitu masih dibilang
kurang apalagi terasa capek di perjalanan, karena keterbatasan waktu ini maka
dalam 1 hari kami langsung ke 3 tempat sekaligus.
Perjalanan dimulai dari stasiun lempuyangan menuju stasiun karangasem,
dengan membeli tiket seharga Rp.94.000/orang maka pada jam 07.15 kami pun
berangkaaat. Perjalanan selama 13jam an dihabiskan dengan tidur, ngobrol,
makan, tidur, ngobrol, ngemil ..... Barulah pukul 20.59 kami sampai di stasiun karangasem. Sebelumnya
kami berempat sudah sepakat akan melakukan perjalanan ini dengan gaya
backpacker dan bersedia tidur ngampar. Atas info dari teman couchsurfingku
yaitu mas oing yang sebelumnya kami pernah bertemu di Bali, aku diberitahu
mengenai tempat penyewaan motor yang sekaligus menyediakan tempat gratis untuk
tidur (ngampar) mangkanya masing-masing dari kami membawa sleeping bag. Nama
tempatnya yaitu rumahsinggahbwi, lokasinya dekat sekali dengan stasiun
karangasem. Dari luar stasiun karangasem rumahsinggah sudah bisa kelihatan,
hanya butuh berjalan beberapa puluh meter saja.
Aku segera menghubungi mas Rahmat, pemilik rumah singgah bahwa kami telah
sampai dan ingin segera mengurus terkait sewa motor dan tempat stay. Rupanya
tempat tidurnya bukan tempat ngampar, dengan membayar biaya Rp.150.000 untuk
penyewaan 2 motor yang berarti Rp.37.500/orang rupanya yang disediakan merupakan kamar tidur dengan
luasnya sekitar 3x3,5 meter. Disana disediakan 1 kasur ukuran double dengan
sprei baru dipasang, karpet dan colokan, kamar mandi tersedia di luar kamar (KM
bersama). Ada beberapa petak kamar yang tersedia di rumahsinggahbwi ini,
ternyata mas rahmat juga punya rumahsinggahbwi 2 yang letaknya tidak jauh dari
rumahsinggahbwi 1 ini. Penghuni di rumahsinggah ini bukan hanya wisatawan lokal
melainkan wisatawan mancanegara juga yang merupakan backpacker. Menginap di
kamar ini sebenarnya gratis, kita hanya perlu membayar listrik dan air (kamar
mandi). Kalau mau sewa motor sekaligus tinggal di rumahsinggah bisa cek
instagramnya yaitu @rumahsinggahbwi.
Setelah menyimpan barang-barang di kamar, kami makan di warung makan
sebelah dimana per-orangnya menghabiskan sekitar Rp.15.000. Karena hanya 1
kamar, maka kami tidur terpisah dimana
aku dan danty tidur di kasur sedangkan agung dan ian tidur di karpet.
Gorden jendela dan pintu pun kami buka agar ga ada yang mikir macem-macem. Kami
tidur pada pukul 22.30 dan bangun pada pukul 23.30, beres-beres dan siap-siap
menuju kawah ijen. Kami pergi bersama beberapa orang juga yang tinggal di
rumahsinggahbwi, tapi karena mereka sangaaaat lama terutama para rombongan dari
bekasi yang berisikan 9 orang laki-laki, lah kok bisa laki-laki ngaret banget
mulai dari lama siap-siapnya, lama beli bensin dan pada ngeroko dulu pula.....
Maka kami berempat memutuskan untuk tidak jalan bareng dengan mereka.
Perjalanan menuju paltuding Ijen sekitar 1 jam, dimana agung dan ian yang
membawa motor cukup kencang melaju. Pada jam 01.30 kami sampai di paltuding
ijen dan kami membeli tiket seharga Rp.5000/orang dan Rp.5000/kendaraan karena
kami boncengan maka Rp.7500/orang, setelah itu kami langsung melakukan
pendakian dengan masker biasa (bukan gask yang disewakan oleh orang-orang lokal
di sana). Awalnya aku pikir pendakian kawah ijen ini sama dengan pendakian
menuju puncak sikunir dieng yang sudah ada tangga-tangga peganggannya dan
jaraknya tidak begitu jauh, namun rupanya aku salah. Perjalanan menuju kawah
ijen cukup sulit dengan jalan yang memiliki kemiringan lumayan, membuat aku dan
danty lumayan banyak berhenti karena kecapekan. Mengatur pola nafas adalah hal
yang perlu, untunglah selama KKN di Kalimantan Barat perbatasan Malaysia aku
banyak menaiki bukit-bukit hampir setiap harinya sehingga lumayan bisa mengatur
pola nafas. Dalam perjalanan ini kami tidak membawa makanan apapun kecuali aku
yang membawa madu dan makanan manis dari kenari. Bahkan minum pun hanya membawa
1 aqua besar yang airnya pun hanya setengah, benar-benar persiapan seadanya.
Perjalanan mendaki kawah ijen adalah 1,5 jam namun untuk melihat blue fire maka
kami harus menuruni bebatuan terlebih dahulu sekitar 30 menit karena lumayan
banyak orang juga yang sedang menuruni bebatuan. Blue fire hanya terlihat
sedikit dan tidak sebagus di video-video orang yang sebelumnya pernah kulihat
di youtube, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 an lewat
dan matahari hampir muncul.
Meski sebelumnya sudah beberapa kali ditawarkan gas mask oleh para
pedagang, tapi kami tetap memilih pergi ke blue fire dengan masker sederhana
(buff, masker kain, masker dari apotek) alhasil beberapa kali bau menyegat
sulfur pun terasa mengganggu pernafasan. Belum lagi mata yang terasa sangat perih
karena sulfur. Kami berniat berfoto-foto disana namun sulit sekali karena
sangat gelap tanpa ada penerangan apapun selain senter, maka foto-foto kami
sangat apa adanya dan blue firenya tidak begitu kelihatan. Lalu ada suatu moment
dimana asap sulfur begitu pekat dan menyengat sehingga membuat para wisatawan
yang sedang melihat blue fire kesulitan melihat karena mata sangat pedih dan
kesulitan bernafas, termasuk kami berempat. Itu adalah pertama kalinya aku
kesulitan bernafas, karena ketika aku bernafas maka hidung dan paru-paru terasa
sangat pedih. Oleh karena itu kami berempat memutuskan untuk segera kembali ke
atas dan menaiki batu-batuan, tapi kami juga harus berebutan dengan para
wisatawan yang sama-sama ingin naik. Karena jalurnya sangat sempit, maka
terkadang yang mau kembali naik ke atas harus mengalah dengan wisatawan yang
mau turun. Tempat itu menjadi arena keegoisan antara yang mau turun demi
melihat blue fire dan yang mau naik agar bisa bernafas normal lagi. Langkah
demi langkah menaiki bebatuan menuju keatas kawah ijen sangatlah sulit dengan
kondisi mata yang perih dan berair, sehingga membuat kacamata berembun tapi
jika tidak memakai kacamata maka aku tidak bisa melihat karena minus mataku
lumayan besar yaitu min 3 kanan dan kiri. Untunglah akhirnya kami sampai juga
ke atas, perjalanan keatas menaiki bebatuan terasa lebih cepat ketimbang saat
turun tadi, maklumlah karena ini demi keselamatan. Akhirnya kami melihat
matahari mulai menyinari kawah ijen dan terlihatlah kawah berwarna hijau tosca
yang super apik dengan asap belerang yang cukup besar. Kami berempat
terheran-heran kenapa tadi kami turun kebawah padahal asap belerangnya begitu
besar dan pemandangan dari atas malah lebih indah.
Setelah puas menggagumi indahnya kawah ijen dan berfoto-foto disana maka
kami kembali turun ke paltuding dan melanjutkan perjalanan ke rumahsinggah. Kami
sampai pukul 9 pagi dan bergantian mandi di kamar mandi yang hanya ada 1, waktu
istirahat kami hanya pada sela-sela waktu menunggu giliran mandi. Hingga pukul
10.25 barulah kami makan lagi di tempat kemarin malam dan setelah makan, kami
melanjutkan perjalanan ke Baluran. Dengan menempuh sekitar 1 jam perjalanan
maka kami sampai di loket tiket masuk ke baluran. Harga tiket masuk TN Baluran
adalah Rp.15.000/orang dan Rp.10.000/motor berarti Rp.20.000/orang dan untuk
sampai ke balurannya ternyata masih membutuhkan waktu sekitar 40 menit lagi.
Ditengah perjalanan rupanya ada masalah yaitu bensin motor aku dan agung habis,
kami kelupaan mengisi bensin karena kami pikir bensinnya masih cukup, padahal
tadi ian dan danty sempat isi bensin. Karena sudah terlanjur jauh dari tempat
loket masuk tadi, rencananya agung akan menyedot bensin dari motor ian, maka
motor kami berempat berjalan cukup pelan demi mencari sedotan. Tiba-tiba ban
motor ian dan danty bocor, wajar saja karena jalan di TN Baluran ini memang
tidak bagus. Maka danty ikut naik motor bareng aku dan agung, kita tumpuk tiga
hingga sampai di Savana Bekol dan turun di sebuah warung makan. Untunglah kami
tidak malu bertanya, ternyata suami si ibu penjaga warung menjual bensin dan
juga bisa menambalkan ban motor yang bocor. Kamipun singgah di warung tersebut
untuk minum dan sekalian menunggu motor kami diisikan bensinnya dan ditambal
bannya. Setelah itu kami puas berfoto-foto di savana luas tersebut meskipun
matahari bersinar sangat terik. Namun selama disana kami kurang bisa melihat
banyak hewan, yang terlihat paling monyet-monyet dan beberapa kerbau, padahal
ingin sekali melihat rusa tapi mereka tidak kelihatan sama sekali.
Setelah puas di TN Baluran, kami segera melanjutkan perjalanan menuju
pantai bangsring yang terletak di sekitaran pelabuhan ketapang. Inginnya sih
kami pergi ke pantai greenbay, tapi karena jaraknya jauh sekali dan waktu kami
di banyuwangi sangat sebentar maka kami memilih pergi ke pantai yang searah
menuju jalan pulang. Pantai Bangsring ini lumayan unik, disana terdapat rumah
yang mengapung di laut dan disana pula pengunjung bisa snorkling bersama hiu,
untuk snorkling biasa juga hanya Rp.35.000. Tapi ternyata ketika kita kesana
sudah pukul 16.30 lewat dan sudah tidak bisa lagi snorkling, alhasil kita hanya
main ke rumah apungnya saja dan berfoto-foto disana. Berada di rumah apung
rupanya lumayan bikin mual, ian adalah korban mual terparah sehingga dia banyak
diam saja karena sudah terlanjur mual bahkan dari awal kita baru sampai di
rumah apung tersebut. Sebelum pulang, kami selonjoran dulu di salah satu saung
karena menunggu ian dan agung sadar dari mual-mualnya dahulu, apalagi mereka
kan yang mengendarai motor tentu saja kondisi mereka tidak boleh oleng.
Setelah
mereka sudah tidak oleng lagi maka kami melanjutkan perjalanan menuju rumahsinggah.
Sebelum itu kami ingin makan malam dahulu karena perut sudah sangat
keroncongan, kami memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan terkenal di
banyuwangi yaitu nasi tempong mak Nah. Tempat makannya sederhana tapi sangat
ramai, pembeli tidak henti-hentinya berdatangan. Harganya murah meriah dan
sambelnya itu loh, sangat wah huh hah sekali alias pedees banget.
Setelah makan malam, kami langsung kembali ke rumahsinggah dan
mengembalikkan motor. Meski kami hanya menyewa motor 1 hari (berakhir pukul 10
malam) tapi kami diizinkan untuk tidur di kamar rumahsinggah meski hingga besok
pagi, karena keberangkatan kereta sri tanjung karangasem-lempuyangan adalah
pada pukul 06.45 pagi. Kami pun segera bergantian mandi dan segera tidur karena
sudah sangat lelah. Paginya kami bangun dan segera bersiap-siap untuk menaiki
kereta sri tanjung, sebelum itu kami pamitan dulu dengan mbah yang menunggu
rumahsinggah punya mas Rahmat dan memberikan sedikit uang untuk air dan listrik
yang sudah kami pakai. Kami membungkus makanan dari tempat makan yang dekat
stasiun lagi dan kereta berangkat tepat waktu yaitu pada pukul 06.45 dan 13 jam
perjalanan kami habiskan lagi dengan tidur-makan-ngobrol. Alhamdulillah
meskipun waktunya terbatas tapi aku sudah bisa ke banyuwangi.
Oh iya,
perjalanan ini tidak mencapai 450ribuan/orang kok kalau misalnya pakai caraku.
ini seluruh list biaya yang aku aku keluarin untuk perjalanan dari Yogyakarta ke Banyuwangi, ini kalau biaya
naik motor dan boncengan ya (share cost) :
1.
Tiket kereta PP :
Rp.94.000x2 = Rp.188.000
2.
Sewa motor :
Rp.75.000/2 = Rp. 37.500
3.
Tempat tinggal :
Rp.20.000 = Rp. 20.000
4.
Makan :
Rp.15.000x4 = Rp. 60.000
5.
Bensin Keseluruhan : Rp.45.000/2 =
Rp. 22.500
6.
Retribusi Kawah Ijen : =
Rp. 3.000
7.
Tiket Kawah Ijen :
= Rp. 7.500
8.
Tiket TN Baluran : = Rp. 20.000
9.
Rumah Apung Pantai B. : =
Rp. 5.000
10.
Jajan dan beli lain-lain : =
Rp. 50.000
(pribadi)
Total Keseluruhan Rp. 413.500


Tidak ada komentar:
Posting Komentar