Traffic Feed

Sabtu, 03 September 2016

Backpacker to Banyuwangi from Yogyakarta


Hi everyone, this is me Dilla. It’s been a long time since my last post, I have something to do which make me kinda negclect this blog. Today I will share to you my experience when I go to Banyuwangi. Also I will give you a budget list how to go to Banyuwangi from Yogyakarta only 400K  including transportation, eat, place to stay, etc. So here I go by using bahasa....

Sebenernya keinginan untuk pergi ke banyuwangi udah ada sejak video clip Raisa yang judul lagunya “Jatuh Hati”. Tempat yang ditampilin di video clip Raisa itu menurutku bagus sekali, setelah nyari-nyari info ternyata tau deh kalo tempat yang dijadikan lokasi syutingnya itu adalah di taman nasional baluran, Banyuwangi. 

Barulah akhir agustus lalu tepatnya tanggal 26-28 agustus kesampaian untuk pergi ke banyuwangi dan melihat beberapa spot menarik disana. Aku yang mengatur dan mengurus segala rencana perjalanan, rincian biaya, tiket, tempat stay, spot yang akan dikunjungi, makan dan penyewaan motor. Aku bersama 3 orang teman lainnya yaitu Danty, Agung dan Ian hanya menghabiskan 3 hari dimana 27 jamnya termasuk perjalanan pulang-pergi kami dari yogyakarta-banyuwangi. Sebentar sekali sih memang, sayang memang padahal Banyuwangi punya tempat-tempat menarik sekali untuk dikunjungi, tapi ya karena kesibukan masing-masing di hari senin dan gatau kapan lagi mau ke Banyuwangi, karena kalo ditunda-tunda malah gajadi. Tentunya waktu segitu masih dibilang kurang apalagi terasa capek di perjalanan, karena keterbatasan waktu ini maka dalam 1 hari kami langsung ke 3 tempat sekaligus.

Perjalanan dimulai dari stasiun lempuyangan menuju stasiun karangasem, dengan membeli tiket seharga Rp.94.000/orang maka pada jam 07.15 kami pun berangkaaat. Perjalanan selama 13jam an dihabiskan dengan tidur, ngobrol, makan, tidur, ngobrol, ngemil ..... Barulah pukul 20.59  kami sampai di stasiun karangasem. Sebelumnya kami berempat sudah sepakat akan melakukan perjalanan ini dengan gaya backpacker dan bersedia tidur ngampar. Atas info dari teman couchsurfingku yaitu mas oing yang sebelumnya kami pernah bertemu di Bali, aku diberitahu mengenai tempat penyewaan motor yang sekaligus menyediakan tempat gratis untuk tidur (ngampar) mangkanya masing-masing dari kami membawa sleeping bag. Nama tempatnya yaitu rumahsinggahbwi, lokasinya dekat sekali dengan stasiun karangasem. Dari luar stasiun karangasem rumahsinggah sudah bisa kelihatan, hanya butuh berjalan beberapa puluh meter saja.

Aku segera menghubungi mas Rahmat, pemilik rumah singgah bahwa kami telah sampai dan ingin segera mengurus terkait sewa motor dan tempat stay. Rupanya tempat tidurnya bukan tempat ngampar, dengan membayar biaya Rp.150.000 untuk penyewaan 2 motor yang berarti Rp.37.500/orang  rupanya yang disediakan merupakan kamar tidur dengan luasnya sekitar 3x3,5 meter. Disana disediakan 1 kasur ukuran double dengan sprei baru dipasang, karpet dan colokan, kamar mandi tersedia di luar kamar (KM bersama). Ada beberapa petak kamar yang tersedia di rumahsinggahbwi ini, ternyata mas rahmat juga punya rumahsinggahbwi 2 yang letaknya tidak jauh dari rumahsinggahbwi 1 ini. Penghuni di rumahsinggah ini bukan hanya wisatawan lokal melainkan wisatawan mancanegara juga yang merupakan backpacker. Menginap di kamar ini sebenarnya gratis, kita hanya perlu membayar listrik dan air (kamar mandi). Kalau mau sewa motor sekaligus tinggal di rumahsinggah bisa cek instagramnya yaitu @rumahsinggahbwi.

Setelah menyimpan barang-barang di kamar, kami makan di warung makan sebelah dimana per-orangnya menghabiskan sekitar Rp.15.000. Karena hanya 1 kamar, maka kami tidur terpisah dimana  aku dan danty tidur di kasur sedangkan agung dan ian tidur di karpet. Gorden jendela dan pintu pun kami buka agar ga ada yang mikir macem-macem. Kami tidur pada pukul 22.30 dan bangun pada pukul 23.30, beres-beres dan siap-siap menuju kawah ijen. Kami pergi bersama beberapa orang juga yang tinggal di rumahsinggahbwi, tapi karena mereka sangaaaat lama terutama para rombongan dari bekasi yang berisikan 9 orang laki-laki, lah kok bisa laki-laki ngaret banget mulai dari lama siap-siapnya, lama beli bensin dan pada ngeroko dulu pula..... Maka kami berempat memutuskan untuk tidak jalan bareng dengan mereka.

Perjalanan menuju paltuding Ijen sekitar 1 jam, dimana agung dan ian yang membawa motor cukup kencang melaju. Pada jam 01.30 kami sampai di paltuding ijen dan kami membeli tiket seharga Rp.5000/orang dan Rp.5000/kendaraan karena kami boncengan maka Rp.7500/orang, setelah itu kami langsung melakukan pendakian dengan masker biasa (bukan gask yang disewakan oleh orang-orang lokal di sana). Awalnya aku pikir pendakian kawah ijen ini sama dengan pendakian menuju puncak sikunir dieng yang sudah ada tangga-tangga peganggannya dan jaraknya tidak begitu jauh, namun rupanya aku salah. Perjalanan menuju kawah ijen cukup sulit dengan jalan yang memiliki kemiringan lumayan, membuat aku dan danty lumayan banyak berhenti karena kecapekan. Mengatur pola nafas adalah hal yang perlu, untunglah selama KKN di Kalimantan Barat perbatasan Malaysia aku banyak menaiki bukit-bukit hampir setiap harinya sehingga lumayan bisa mengatur pola nafas. Dalam perjalanan ini kami tidak membawa makanan apapun kecuali aku yang membawa madu dan makanan manis dari kenari. Bahkan minum pun hanya membawa 1 aqua besar yang airnya pun hanya setengah, benar-benar persiapan seadanya. Perjalanan mendaki kawah ijen adalah 1,5 jam namun untuk melihat blue fire maka kami harus menuruni bebatuan terlebih dahulu sekitar 30 menit karena lumayan banyak orang juga yang sedang menuruni bebatuan. Blue fire hanya terlihat sedikit dan tidak sebagus di video-video orang yang sebelumnya pernah kulihat di youtube, mungkin karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 an lewat dan matahari hampir muncul.
                                                                                         
Meski sebelumnya sudah beberapa kali ditawarkan gas mask oleh para pedagang, tapi kami tetap memilih pergi ke blue fire dengan masker sederhana (buff, masker kain, masker dari apotek) alhasil beberapa kali bau menyegat sulfur pun terasa mengganggu pernafasan. Belum lagi mata yang terasa sangat perih karena sulfur. Kami berniat berfoto-foto disana namun sulit sekali karena sangat gelap tanpa ada penerangan apapun selain senter, maka foto-foto kami sangat apa adanya dan blue firenya tidak begitu kelihatan. Lalu ada suatu moment dimana asap sulfur begitu pekat dan menyengat sehingga membuat para wisatawan yang sedang melihat blue fire kesulitan melihat karena mata sangat pedih dan kesulitan bernafas, termasuk kami berempat. Itu adalah pertama kalinya aku kesulitan bernafas, karena ketika aku bernafas maka hidung dan paru-paru terasa sangat pedih. Oleh karena itu kami berempat memutuskan untuk segera kembali ke atas dan menaiki batu-batuan, tapi kami juga harus berebutan dengan para wisatawan yang sama-sama ingin naik. Karena jalurnya sangat sempit, maka terkadang yang mau kembali naik ke atas harus mengalah dengan wisatawan yang mau turun. Tempat itu menjadi arena keegoisan antara yang mau turun demi melihat blue fire dan yang mau naik agar bisa bernafas normal lagi. Langkah demi langkah menaiki bebatuan menuju keatas kawah ijen sangatlah sulit dengan kondisi mata yang perih dan berair, sehingga membuat kacamata berembun tapi jika tidak memakai kacamata maka aku tidak bisa melihat karena minus mataku lumayan besar yaitu min 3 kanan dan kiri. Untunglah akhirnya kami sampai juga ke atas, perjalanan keatas menaiki bebatuan terasa lebih cepat ketimbang saat turun tadi, maklumlah karena ini demi keselamatan. Akhirnya kami melihat matahari mulai menyinari kawah ijen dan terlihatlah kawah berwarna hijau tosca yang super apik dengan asap belerang yang cukup besar. Kami berempat terheran-heran kenapa tadi kami turun kebawah padahal asap belerangnya begitu besar dan pemandangan dari atas malah lebih indah.

Setelah puas menggagumi indahnya kawah ijen dan berfoto-foto disana maka kami kembali turun ke paltuding dan melanjutkan perjalanan ke rumahsinggah. Kami sampai pukul 9 pagi dan bergantian mandi di kamar mandi yang hanya ada 1, waktu istirahat kami hanya pada sela-sela waktu menunggu giliran mandi. Hingga pukul 10.25 barulah kami makan lagi di tempat kemarin malam dan setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Baluran. Dengan menempuh sekitar 1 jam perjalanan maka kami sampai di loket tiket masuk ke baluran. Harga tiket masuk TN Baluran adalah Rp.15.000/orang dan Rp.10.000/motor berarti Rp.20.000/orang dan untuk sampai ke balurannya ternyata masih membutuhkan waktu sekitar 40 menit lagi. Ditengah perjalanan rupanya ada masalah yaitu bensin motor aku dan agung habis, kami kelupaan mengisi bensin karena kami pikir bensinnya masih cukup, padahal tadi ian dan danty sempat isi bensin. Karena sudah terlanjur jauh dari tempat loket masuk tadi, rencananya agung akan menyedot bensin dari motor ian, maka motor kami berempat berjalan cukup pelan demi mencari sedotan. Tiba-tiba ban motor ian dan danty bocor, wajar saja karena jalan di TN Baluran ini memang tidak bagus. Maka danty ikut naik motor bareng aku dan agung, kita tumpuk tiga hingga sampai di Savana Bekol dan turun di sebuah warung makan. Untunglah kami tidak malu bertanya, ternyata suami si ibu penjaga warung menjual bensin dan juga bisa menambalkan ban motor yang bocor. Kamipun singgah di warung tersebut untuk minum dan sekalian menunggu motor kami diisikan bensinnya dan ditambal bannya. Setelah itu kami puas berfoto-foto di savana luas tersebut meskipun matahari bersinar sangat terik. Namun selama disana kami kurang bisa melihat banyak hewan, yang terlihat paling monyet-monyet dan beberapa kerbau, padahal ingin sekali melihat rusa tapi mereka tidak kelihatan sama sekali.

Setelah puas di TN Baluran, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pantai bangsring yang terletak di sekitaran pelabuhan ketapang. Inginnya sih kami pergi ke pantai greenbay, tapi karena jaraknya jauh sekali dan waktu kami di banyuwangi sangat sebentar maka kami memilih pergi ke pantai yang searah menuju jalan pulang. Pantai Bangsring ini lumayan unik, disana terdapat rumah yang mengapung di laut dan disana pula pengunjung bisa snorkling bersama hiu, untuk snorkling biasa juga hanya Rp.35.000. Tapi ternyata ketika kita kesana sudah pukul 16.30 lewat dan sudah tidak bisa lagi snorkling, alhasil kita hanya main ke rumah apungnya saja dan berfoto-foto disana. Berada di rumah apung rupanya lumayan bikin mual, ian adalah korban mual terparah sehingga dia banyak diam saja karena sudah terlanjur mual bahkan dari awal kita baru sampai di rumah apung tersebut. Sebelum pulang, kami selonjoran dulu di salah satu saung karena menunggu ian dan agung sadar dari mual-mualnya dahulu, apalagi mereka kan yang mengendarai motor tentu saja kondisi mereka tidak boleh oleng. 

Setelah mereka sudah tidak oleng lagi maka kami melanjutkan perjalanan menuju rumahsinggah. Sebelum itu kami ingin makan malam dahulu karena perut sudah sangat keroncongan, kami memutuskan untuk makan di salah satu tempat makan terkenal di banyuwangi yaitu nasi tempong mak Nah. Tempat makannya sederhana tapi sangat ramai, pembeli tidak henti-hentinya berdatangan. Harganya murah meriah dan sambelnya itu loh, sangat wah huh hah sekali alias pedees banget. 
Setelah makan malam, kami langsung kembali ke rumahsinggah dan mengembalikkan motor. Meski kami hanya menyewa motor 1 hari (berakhir pukul 10 malam) tapi kami diizinkan untuk tidur di kamar rumahsinggah meski hingga besok pagi, karena keberangkatan kereta sri tanjung karangasem-lempuyangan adalah pada pukul 06.45 pagi. Kami pun segera bergantian mandi dan segera tidur karena sudah sangat lelah. Paginya kami bangun dan segera bersiap-siap untuk menaiki kereta sri tanjung, sebelum itu kami pamitan dulu dengan mbah yang menunggu rumahsinggah punya mas Rahmat dan memberikan sedikit uang untuk air dan listrik yang sudah kami pakai. Kami membungkus makanan dari tempat makan yang dekat stasiun lagi dan kereta berangkat tepat waktu yaitu pada pukul 06.45 dan 13 jam perjalanan kami habiskan lagi dengan tidur-makan-ngobrol. Alhamdulillah meskipun waktunya terbatas tapi aku sudah bisa ke banyuwangi. 

Oh iya, perjalanan ini tidak mencapai 450ribuan/orang kok kalau misalnya pakai caraku. ini seluruh list biaya yang aku aku keluarin untuk perjalanan dari Yogyakarta ke Banyuwangi, ini kalau biaya naik motor dan boncengan ya (share cost) :
1.       Tiket kereta PP                 : Rp.94.000x2     = Rp.188.000
2.       Sewa motor                       : Rp.75.000/2     = Rp.   37.500
3.       Tempat tinggal                  : Rp.20.000        = Rp.   20.000
4.       Makan                               : Rp.15.000x4    = Rp.   60.000
5.       Bensin Keseluruhan          : Rp.45.000/2     = Rp.   22.500
6.       Retribusi Kawah Ijen        :                          = Rp.     3.000
7.       Tiket Kawah Ijen              :                          = Rp.     7.500
8.       Tiket TN Baluran              :                          = Rp.  20.000
9.       Rumah Apung Pantai B.   :                          = Rp.    5.000
10.   Jajan dan beli lain-lain      :                          = Rp.  50.000
(pribadi)                              
Total Keseluruhan                                         Rp. 413.500

Tidak ada komentar:

Posting Komentar